martinmbaihaqi@Ubuntu:~$ sudo apt-get -f install
Reading package lists... Done
Building dependency tree
Reading state information... Done
Correcting dependencies... Done
The following extra packages will be installed:
gdal-bin libgdal1h
The following NEW packages will be installed:
gdal-bin libgdal1h
0 upgraded, 2 newly installed, 0 to remove and 2 not upgraded.
33 not fully installed or removed.
Need to get 0 B/5.355 kB of archives.
After this operation, 14,7 MB of additional disk space will be used.
Analys System, Remote Sensing, Geographial Information System, Digital Mapping, Google Maps, Google Eerth and Global Positioning, Open Source, Ubuntu
Thursday, November 28, 2013
upgrade gdal-bin libgdal1h
[SOLVED] WARNING: The following packages cannot be authenticated! libgdal1h gdal-bin
Sunday, October 20, 2013
The Geographic Approach
Geography is the science of our world. Coupled with GIS, geography is
helping us to better understand the earth and apply geographic knowledge
to a host of human activities. The outcome is the emergence of The Geographic Approach—a
new way of thinking and problem solving that integrates geographic
information into how we understand and manage our planet. This approach
allows us to create geographic knowledge by measuring the earth,
organizing this data, and analyzing and modeling various processes and
their relationships. The Geographic Approach also allows us to apply
this knowledge to the way we design, plan, and change our world.
Tuesday, July 16, 2013
Kemenkominfo Targetkan 150 Radio Komunitas
Metrotvnews.com, Jakarta: Upaya menjangkau pelayanan
informasi kepada masyarakat luas di Tanah Air hingga daerah terdepan,
terluar, dan tertinggal (3T), Direktorat Jenderal Informasi dan
Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi (Ditjen
IKP-Kemenkominfo) menargetkan pembentukan 150 radio komunitas.
Hal tersebut dikemukakan Dirjen IKP Kemenkominfo.Freddy F Tulung pada Focus Group Discussion (FGD) tentang Asia Media Summit (AMS) yang dihadiri praktisi media massa dan organisasi jurnalis media di Jakarta, Kamis (16/5).
Menurut Freddy, program Radio Komunitas merupakan bagian dari program Desa Informasi yang sedang berjalan. Dijelaskan khusus wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) menjadi sangat penting mengingat akses yang minim dalam mendapat sebaran informasi."
Wilayah mereka tersudut dari informasi dengan jangkauan sinyal yang tidak memadai. Di lain pihak PBB telah menyepakati tahun 2015 sebanyak 50 persen penduduk dunia harus mendapat layanan informasi," ungkapnya.
Untuk itu, diperlukan penguatan kelembagaan informasi bagi masyarakat agar mendapatkan sarana komunikasi diantaranya melalui radio komunitas yang memuat nilai pendidikan dan bimbingan teknis untuk masyarakat.
Program desa informasi ,ungkapnya diambil dari anggaran sekitar 1,25 persen dari pendaptan provider telekomuinikasi di Indonesia yang mencapai nilai sekitar Rp 1 triliun lebih untuk membangun infrastruktur dasar di desa-desa.
Namun begitu, ia mengakui adanya sedikit hambatan dalam mewujudkan radio komunitas pada perizinan.Pihaknya telah meminta rekomendasi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan juga harus kerjasama denga KPI Daerah (KPID). Selain itu,kata dia, pihaknya akan mengajak duduk bersama kalangan praktisi media radio dan PRSSNI.
Dikatakan Radio Komunitas di desa desa kebanyakan terkait dengan budaya adat dan agama yang mesti dibekali pelatihan pada konten menyangkut pendidikan kebangsaan.
Dalam konteks hajatan AMS ke 10 di Menado pada 29-30 Mei mendatang yang di ikuti 320 media asing dan baru 79 media nasional yang mendaftar, Freddy mengingatkan pentingnya proses pembelajaran kepada negara lain dalam pengelolaan radio komunitas.
"Kita mesti belajar dengan Bangladesh yang sukses kelola radio komunitas," pungkas Freddy. (Syarief Oebaidillah)
Hal tersebut dikemukakan Dirjen IKP Kemenkominfo.Freddy F Tulung pada Focus Group Discussion (FGD) tentang Asia Media Summit (AMS) yang dihadiri praktisi media massa dan organisasi jurnalis media di Jakarta, Kamis (16/5).
Menurut Freddy, program Radio Komunitas merupakan bagian dari program Desa Informasi yang sedang berjalan. Dijelaskan khusus wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) menjadi sangat penting mengingat akses yang minim dalam mendapat sebaran informasi."
Wilayah mereka tersudut dari informasi dengan jangkauan sinyal yang tidak memadai. Di lain pihak PBB telah menyepakati tahun 2015 sebanyak 50 persen penduduk dunia harus mendapat layanan informasi," ungkapnya.
Untuk itu, diperlukan penguatan kelembagaan informasi bagi masyarakat agar mendapatkan sarana komunikasi diantaranya melalui radio komunitas yang memuat nilai pendidikan dan bimbingan teknis untuk masyarakat.
Program desa informasi ,ungkapnya diambil dari anggaran sekitar 1,25 persen dari pendaptan provider telekomuinikasi di Indonesia yang mencapai nilai sekitar Rp 1 triliun lebih untuk membangun infrastruktur dasar di desa-desa.
Namun begitu, ia mengakui adanya sedikit hambatan dalam mewujudkan radio komunitas pada perizinan.Pihaknya telah meminta rekomendasi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan juga harus kerjasama denga KPI Daerah (KPID). Selain itu,kata dia, pihaknya akan mengajak duduk bersama kalangan praktisi media radio dan PRSSNI.
Dikatakan Radio Komunitas di desa desa kebanyakan terkait dengan budaya adat dan agama yang mesti dibekali pelatihan pada konten menyangkut pendidikan kebangsaan.
Dalam konteks hajatan AMS ke 10 di Menado pada 29-30 Mei mendatang yang di ikuti 320 media asing dan baru 79 media nasional yang mendaftar, Freddy mengingatkan pentingnya proses pembelajaran kepada negara lain dalam pengelolaan radio komunitas.
"Kita mesti belajar dengan Bangladesh yang sukses kelola radio komunitas," pungkas Freddy. (Syarief Oebaidillah)
Subscribe to:
Posts (Atom)




